Hukum Robot EA

Copas dari Lembaga Trading Syar’i

Hukum Robot Forex – Expert Advisor (EA)


Postingan ini akan sedikit membahas hukum jual beli mata uang menggunakan robot menurut syariah. Allah ta’ala menciptakan manusia dengan anugrah pikiran yang senantiasa beradaptasi dengan perubahan dan terus bisa berevaluasi melahirkan pemikiran yang baru. 

Tentu dari semua hasil buah pikir manusia ada yang dampaknya baik dan ada juga yang buruk. Sebagai seorang trader muslim maka aturan Allah dan Rasul serta pemimpin kita harus bisa menjadi filter dasar untuk membatasi akses kemajuan tersebut.


Karena kita di dunia ini hanya sebentar saja dengan tujuan untuk beribadah, mencari ridho Allah sebagai bekal untuk akhirat kita yang abadi. Janganlah urusan dunia melalaikan akhirat kita. 


Sesukses suksesnya, sekaya kayanya, sepintar pintarnya manusia di dunia ini jarang ada yang sampai usia 100 tahun, tetapi kehidupan akhirat itu tidak ada batasan waktunya (kholidina fiha abada). Hanya ada 2 tempat disana surga atau neraka, dan tempat kembali kita di akhirat ditentukan sejak kita di dunia ini.


Salah satu perkembangan teknologi informasi dan komputer yang makin maju di bidang perdagangan valuta asing (trading forex) mampu menyajikan suatu fasilitas penggunaan fitur trading otomatis (automated trading) dengan menggunakan software robot forex/Expert Advisor (EA).


Apa itu robot forex / Expert Advisor (EA) ?


Expert Advisor (EA) adalah software yang dibuat menggunakan bahasa pemrograman untuk mengambil keputusan sendiri secara otomatis dalam trading dan mengatasi kelemahan dari sifat manusia dalam bertrading, sebagai contoh : rasa lelah, takut, serakah, tidak konsisten, emosi, dll dan EA hanya bisa berjalan pada platform trading MetaTrader.


EA yang disebut juga robot forex dapat melakukan beberapa eksekusi trading secara otomatis dan lebih cepat daripada manusia karena sebuah EA hanya mematuhi apa yang sudah diperintahkan dalam programnya. Fasilitas ini sangat diminati oleh para trader yang menginginkan kemudahan dalam trading. Trader tidak harus mengamati pergerakan harga forex (valas) seperti apa yang dilakukan trader pada umumnya. 


EA dapat mengambil alih kendali transaksi yang seharusnya dilakukan trader (manusia pelaku jual beli) untuk melakukan open order, close order yang telah profit, cut loss, mengatur money management, dll. 


Perlu diketahui terlebih dahulu bahwa praktik seperti di atas tidak bisa di sebut jual beli secara syara’. Kecuali bila software EA/robot di atas hanya digunakan si pemiliknya untuk membantu menentukan entry saja dan semua pelaksanaan transaksi dilakukan oleh trader sendiri. 

Mari kita simak bahasannya di postingan berikut :

Sebelumnya kita ingatkan dulu bahwa jual beli adalah salah satu urusan duniawi yang disyariatkan oleh Islam, sebagaimana yang termaktub dalam al-Quran surat al-Baqarah ayat 275:


وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا


Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba

Serta dalam QS al-Nisâ’: 29:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا


Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.

Jual beli dalam kitab-kitab fikih diistilahkan dengan البيع yang merupakan isim mashdar dari kata باع dikatakan بَاعَهُ يَبِيعُهُ بَيْعًا وَمَبِيعًا فَهُوَ بَائِعٌ . Dalam kamus Lisan al-‘Arab secara bahasa البيع adalah lawan kata dari الشراء (membeli) yang berarti menjual, namun البيع juga bisa berarti membeli. (Lisan al-Arab, 8:23) Oleh karena itu al-bai adalah termasuk lafadz musytarakah, yang bisa berarti membeli juga bisa berarti menjual. Bentuk jamak/pluralnya adalah buyu’ (بيوع).


Definisi jual beli dalam istilah syara Sayyid Sabiq (Fiqh al-Sunnah, 3:46) sebagai beikut:


مبادلة مال بمال على سبيل التراضي أو نقل ملك بعوض على الوجه المأذون فيه


Menukarkan harta dengan harta dengan jalan memilikkan berdasarkan keridhaan (penjual dan pembeli) atau memindahkan kepemilikan dengan kompensasi/ganti rugi dengan cara yang diizinkan oleh syara.

Landasan sunnah adalah berdasarkan sabda Nabi saw.:


عَنْ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا


Dari Hakim bin Hizam dari Nabi saw. beliau bersabda:”Orang yang bertransaksi jual beli berhak khiyar (memilih) selama keduanya belum berpisah (HR. al-Bukhari).

Hukum Jual Beli dalam Islam


Hukum jual beli adalah mubah akan tetapi menjadi wajib ketika dalam situasi membutuhkan makanan atau minuman untuk menjaga diri supaya tidak binasa, bisa juga makruh seperti membeli barang yang makruh, bisa juga haram seperti membeli khomer dan mubah pada hal selain yang telah disebutkan tadi. (Abdul Halîm U’wais, Mustalahât ‘Ulûm al-Quran, hlm. 386)


Jual beli yang terlarang dengan sebab sighat akad/kontrak


a) Tidak ada kesepakatan ijab dan kabul


b) Jual beli dengan korespondensi atau utusan. Jual beli ini sah selama masih berada dalam masjlis (tempat menjual dan membeli, pen). Jika ijab dan qabul terjadi setelah mereka berpisah dari majelis maka tidak sah akadnya.


c) Jual beli dengan orang yang tidak ada pada pada majlis akadnya adalah tidak sah. (mis, membeli krupuk pada sebuah warung saat penjual tidak ada, pen)


d) Jual beli yang belum selesai. Seperti jual beli yang digantungkan dengan syarat atau disandarkan kepada waktu yang akan datang, jual beli ini tidak sah.


• Jual beli yang digantungkan dengan syarat, seperti saya jual rumah ini kepadamu dengan harga sekian jika ayah saya datang dari perjalanannya. Jual beli ini adalah gharar, karena penjual dan pembeli tidak tahu apakah akan terjadi apa yang digantungkan dan kapan?


• Jual beli yang disandarkan dengan waktu seperti saya jual kendaraan ini awal bulan depan. Jual beli ini adalah gharar karena tidak akan diketahui bagaimana barang pada waktu yang akan datang.



Sumber :

http://koneksi-indonesia.org/2014/jual-beli-yang-dilarang-dan-diharamkan-3/


Dalam bahasa Arab istilah akad (kesepakatan) memiliki beberapa pengertian namun semuanya memiliki kesamaan makna yaitu mengikat dua hal. Dua hal tersebut bisa konkret, bisa pula abstrak semisal akad jual beli.


Di samping itu, akad juga memiliki makna luas yaitu kemantapan hati seseorang untuk harus melakukan sesuatu baik untuk dirinya sendiri ataupun orang lain. Berdasarkan makna luas ini maka nadzar dan sumpah termasuk akad.


Allah ta’ala berfirman,


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ


“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu.” (Qs. al Maidah: 1)

Sedangkan secara istilah akad adalah menghubungkan suatu kehendak suatu pihak dengan pihak lain dalam suatu bentuk yang menyebabkan adanya kewajiban untuk melakukan suatu hal. 


Rukun Aqad


Ada tiga rukun aqad yaitu dua pihak yang mengadakan transaksi, objek transaksi dan shighah/pernyataan resmi adanya transaksi.


Dua pihak yang mengadakan transaksi adalah dua pihak yang secara langsung menangani sebuah transaksi. Agar sebuah aqad atau transaksi itu sah maka pihak yang mengadakan transaksi haruslah orang yang dalam sudut pandang fiqh memiliki kapasitas untuk melakukan transaksi.


Sebuah transaksi itu bersifat mengikat yaitu tidak bisa lagi dibatalkan jika tidak mengandung khiyar. Khiyar adalah hak yang dimiliki oleh dua belah pihak yang mengadakan transaksi untuk melanjutkan transaksi ataukah membatalkannya.


Sumber : http://pengusahamuslim.com/1071-pengertian-akad.html


Setelah membaca ulasan tentang Aqad yang merupakan salah satu syarat sahnya jual beli maka akan terlihat jelas bahwa pelaku jual beli atau pembuat akad jual beli adalah orang, bukan robot dan tidak bisa diwakilkan oleh robot. 


Jika robot hanya berperan sebagai pembantu transaksi saja, boleh. Dalam hal trading forex misalnya EA hanya membantu analisa pergerakan harga saja dan memberikan signal posisi yang profitable lalu keputusan entry dan penempatan posisi harga saat transaksi dilakukan oleh trader itu boleh.


Dulu para penjual harus selalu menunggu barang dagangannya, sekarang cukup dengan memasukkan koin kedalam Mesin dan menekan tombol tertentu maka akan keluarlah barang yang kita inginkan.

Sahkah jual beli dengan memakai alat seperti di atas?


SAH apabila kedudukan alat/mesin hanya sebagai pembantu saja. Tetapi kalau bertindak sebagai aqid maka tidak sah.


Perlu diketahui terlebih dahulu bahwa praktik di atas tidak bisa di sebut jual beli secara syara’. Kecuali bila alat/mesin di atas ditunggu oleh si pemilik atau wakilnya. Robot/alat/mesin tidak bisa bertindak mewakili orang.



Namun pengambilan barang dengan sistim di atas diperbolehkan. Sebab sudah ada ridlo dari kedua belah pihak. Hampir semua ulama kontemporer sepakat atas bolehnya transaksi melalui internet, mesin ATM, mesin otomatis untuk beli minuman Pepsi, Coca Cola, koran dan majalah, dll. 

Menggunakan menin ATM, membeli miniuman dari mesin, atau jual beli barang melalui internet hukumnya sah asal memenuhi prinsip dasar jual beli yaitu (a) tidak ada unsur penipuan; (b) barang yang dijual diketahui dengan jelas oleh pembeli; (c) barang yang dijual bukan barang haram; (d) bukan riba.


Tetapi jika sudah menyerahkan sepenuhnya semua keputusan transaksi entry dan exit order dalam semua transaksinya maka yang seperti itu tidak bisa dibenarkan dalam hukum jual beli syariah (jual belinya tidak sah). 


Untuk itu bagi para trader muslim cobalah untuk merenungkan hal ini baik-baik. Sungguh mulianya syariah Islam dalam semua sendi kehidupan, ridholah pada semua ketentuan Allah azza wa jalla yang keseluruhannya pasti untuk kebaikan ummat manusia dan ujungnya pasti surga.


Coba kita bayangkan saja, jika transaksi diwakili oleh robot kemudian ada perselisihan atau ada masalah dengan transaksinya atau tiba-tiba ada gangguan sistem sofware programnya lalu siapa yang akan bertanggung jawab atas semua kerugian yang mungkin terjadi ? 


Jangan hanya terpesona dan tertarik oleh sesuatu yang kelihatannya enak, bagus, menguntungkan, tetapi jika tidak sesuai aturan syariah harus ditinggalkan. Jangan halalkan segala cara untuk mencari untung. 


Lagi-lagi dan lagi, makin banyak saja yang menanyakan apakah kami sama dengan program workshop, seminar diluar sana ?TIDAK !


Kami BERBEDA dengan yang ada diluar sana (di TV, majalah, youtube, dll). Kami pernah menonton sebuah acara TV tentang workshop trading yang kata narasumbernya syariah tetapi dalam prakteknya hanya mengarahkan peserta nya untuk trading di broker penyedia layanan bebas swap saja. 


Ada lagi yang tayangan TV yang mempromosikan software robot trading melalui flashdisk, tinggal colok dijamin pasti profit dengan segala kehebatan dan kelebihan. 


Ingat NIAT dan TUJUAN trading forex dalam FATWA DSN MUI. Tidak untuk spekulasi / untung-untungan dan harus ada tujuan untuk apa pertukaran uang itu. Jadi jika dari awal sudah tidak sesuai dengan aturan syariah maka berikutnya pasti juga sudah tidak benar. Apalagi jika pembuatnya non muslim yang pastinya tidak tau hukum jual beli syariah. Semoga sampai disini bisa difahami bersama.

Jual beli yang dilakukan antar penjual dan pembeli (sesama manusia) tentulah semua hukumnya akan menjadi jelas, aman, dan jiwapun tenang keuntungannya bisa menjadi maisyah yang bermanfaat dan barokah. ROBOT / software tidak tau halal haram, tidak akan masuk surga atau neraka. Semoga yang sedikit ini bisa menjadi renungan kita bersama. Barokallahu fiikum.


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s